Sepak terjang dan Daftar Kasus Besar Novel dalam Memerangi Korupsi di Negeri ini

Sepak terjang dan Daftar Kasus Besar Novel dalam Memerangi Korupsi di Negeri ini

Sepak terjang Novel Baswedan memang sangat luar biasa semenjak menjadi Penyidik di Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Novel Baswedan menjadi penyidik di KPK sejak tahun 2007 dan mempunyai peran besar dalam menguak kasus-kasus korupsi kelas kakap di Indonesia.

Sehingga sangatlah mungkin banyak para koruptor-koruptor besar di negari ini, dengan kekayaan yang dimilikinya dari hasil korupsi, membayar atau menyuruh orang untuk menyerang, atau mengintimidasi para penyidik KPK tersebut. Seperti yang terjadi pada penydidik KPK Novel Baswedan subuh tadi Selasa 11 April 2017. Novel Baswedan disiram Air Keras oleh orang tak dikenal.

Lahir di Semarang, 22 Juni 1977, Novel Baswedan sempat mengusut kasus-kasus besar menyangkut rasuah di negeri ini seperti :

1. Kasus Wisma Atlet 
Kasus yang menyeret nama-nama dari kalangan parpol yang di antaranya adalah Angelina Sondakh yang kini telah ditahan.

2. Kasus jual-beli perkara sengketa Pilkada di Mahkamah Konstitusi. 
Kasus ini menyeret hakim konstitusi Akil Mochtar hingga sejumlah kepala daerah yang berperkara. Salah satunya adalah mantan Gubernur Banten Ratu Atut Chosiyah.

3. Kasus Simulator SIM Korlantas Polri
Ketika KPK berhadapan dengan instansi Polri. Saat itu, KPK mengusut kasus dugaan korupsi simulator SIM yang ada pada instansi Polri. Kasus ini pulalah yang memicu adanya konflik antara KPK dengan Polri kala itu. Dalam kasus simulator SIM itu, Novel punya andil besar, hingga akhirnya melibatkan sejumlah petinggi Polri dalam kasus tersebut. 

Bahkan, untuk keperluan pemeriksaan, penyidik KPK saat itu sampai melakukan penggeledahan di kantor Korlantas, yang dipimpin Irjen Djoko Susilo. Tak mau kalah, Polri juga menyeret Novel dalam sebuah kasus yang sudah usang, yakni ketika masih dinas di Polres Bengkulu. Novel dijadikan tersangka oleh kepolisian dalam kasus penembakan tersangka pencurian sarang walet. Hingga akhirnya, pada Mei 2015, Novel pun ditangkap polisi atas kasus itu.

4. Kasus e-KTP
Kasus besar terakhir yang ditangani Novel, adalah korupsi proyek pengadaan e-KTP. Novel berperan sentral pada kasus ini. Mulai dari awal hingga akhirnya dibawa ke persidangan. Bersama rekan penyidiknya, ia berusaha mendapatkan sejumlah saksi kunci dari total 200 lebih saksi yang diperiksa.

Total kerugian negara dari korupsi e-KTP ini tergolong fantastis yakni Rp 2,3 triliun, dan menyeret aktor-aktor politik dan juga pejabat kementerian serta pengusaha. Sejumlah saksi kunci dalam kasus tersebut pun ada yang menyangkal.

Salah satunya, Miryam S. Haryani, anggota komisi II dari Fraksi Partai Hanura saat proyek berlangsung, yakni dalam rentang waktu antara 2009 sampai 2014. Pengusutan kasus e-KTP ini terhambat karena adanya sangkalan beberapa saksi, terutama dari Miryam.

Miryam, saat bersaksi di persidangan, malah mencabut seluruh BAP untuk dirinya, kemudian "menyerang" Novel. Miryam mengaku telah ditekan oleh Novel saat diperiksa di KPK Desember 2016. Hingga akhirnya majelis membuat keputusan untuk memeriksa para penyidik yang dituduh Miryam telah menekannya, termasuk Novel, ke dalam persidangan.

Banyak kalangan yang menduga bahwa Miryam justru telah ditekan oleh kalangan DPR untuk mengubah keterangannya saat di persidangan dan mencabut seluruh isi BAP selama diperiksa KPK
Advertisement

Baca juga:

Loading...
Blogger
Disqus
Pilih Sistem Komentar

No comments