Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Widget HTML #1

Apa itu Metaverse? Penjelasan Lebih Lanjut Tentang Metaverse!

Baru-baru ini Universitas Terbuka (UT) menyatakan akan segera terjun ke dunia Metaverse untuk mempermudah pelayanan akademik dan non-akademik kepada para mahasiswa dan sivitas akademikanya.

Langkah universitas terbuka ini sekaligus memantapkan dirinya sebagai Cyber University dan Cyber Academy.

apa itu metaverse

CEO-CEO perusahaan besar seperti Mark Zuckerberg (Facebook) atau CEO Microsoft Satya Nadella menyebutkan metaverse merupakan masa depan internet.

Diawal tahun ini, Facebook mengumumkan rebranding mereka ke Meta dan akan memfokuskan masa depannya pada "metaverse".

Sejak saat itu, banyak yang bertanya-tanya tentang apa itu metaverse, bagaimana bentuknya, seperti apa kelihatannya, bagaimana cara bergabung atau join metaverse, apa arti istilah itu, masih belum jelas.

Meta dibangun melalui platform sosial VR (Virtual Reality), dan Roblox menjadi salah satu platform yang memfalitasinya, dimana para penggunanya bisa membuat video gamenya sendiri.

Juga beberapa perusahaan besar yang selain menawarkan dunia game, juga menawarkan hal yang terkait dengan NFT. 

Pengguna awam hingga perusahaan teknologi raksasa berpendapat bahwa kurangnya keterpaduan bangunan metaverse ini disebabkan karena metaverse saat ini masih berkembang.

Sehingga masih terlalu dini untuk mendefinisikan apa arti dari metaverse tersebut. 

Internet dimulai pada era tahun 1970-an, namun apa yang menjadi gagasan tentang internet kedepannya serta tujuan akhir dari internet itu masih belum bisa dipetakan.

Di sisi lain, banyak jenis pemasaran dan juga tentang keuangan yang sedang trending saat ini dengan menjual gagasan tentang "metaverse." 

Facebook, khususnya, berada di tempat yang sangat rentan setelah Apple mengambil langkah untuk membatasi pelacakan iklan yang menghantam mereka.

Sangat mustahil untuk memisahkan visi Facebook tentang masa depan (metaverse) di mana setiap orang memiliki kehidupan digital yang terbuka dengan fakta bahwa Facebook menghasilkan uang dengan menjual kehidupan digital tersebut.

Tapi Facebook bukan satu-satunya perusahaan yang berdiri untuk mendapatkan keuntungan finansial dari metaverse yang sedang tren ini.

Jadi, dengan semua pemikiran-pemikiran itu, ....

Serius Nanya! Apa itu "Metaverse"?

Untuk membantu memahami betapa tidak jelas dan kompleksnya istilah "metaverse", berikut cara untuk melatih memahami apa itu metaverse.

Coba ganti frasa "metaverse" dengan kalimat "cyberspace."

Sembilan puluh persen dari waktu kewaktu, artinya tidak akan berubah secara substansial. 

Itu karena istilah tersebut tidak hanya mengacu pada satu jenis teknologi tertentu saja, melainkan bergeser menjadi lebih luas dalam bagaimana cara kita berinteraksi dengan teknologi.

Dan sangat mungkin bahwa istilah itu sendiri pada akhirnya akan menjadi sama kunonya, bahkan ketika teknologi yang dulunya "wow", "spesifik", "emejing", menjadi hal biasa.

Secara garis besar, saat perusahaan-perusahaan teknologi berbicara tentang "metaverse" dapat mencakup hal-hal seperti realitas virtual (VR), yang ditandai dengan dunia virtual persisten yang terus ada bahkan ketika kita tidak sedang bermain.

Serta augmented reality (AR) yang menggabungkan aspek digital dan dunia fisik. 

Namun, itu tidak mengharuskan ruang tersebut diakses secara eksklusif melalui VR (Virtual Reality) atau AR (Augmented Reality).

Dunia virtual seperti game Fortnite atau PUBG yang dapat diakses melalui PC, konsol game, dan bahkan ponsel sudah mulai menyebut diri mereka sebagai “metaverse.”

Banyak perusahaan yang telah mengikuti arus "metaverse" juga membayangkan semacam ekonomi digital baru, di mana pengguna dapat membuat, membeli, dan menjual barang.

Dalam visi metaverse yang lebih idealis, memungkinkan kita untuk mengambil barang virtual seperti pakaian atau mobil dari satu platform ke platform lain.

Walaupun sebenarnya hal itu sangat sulit untuk dilakukan daripada kedengarannya.

Sementara beberapa pendukung metaverse mengklaim bahwa teknologi baru seperti NFT dapat mengaktifkan aset digital portabel, dan itu sama sekali tidak benar.

Membawa item dari satu video game atau dunia virtual kedalam game atau dunia virtual lainnya adalah merupakan suatu pekerjaan yang sangat kompleks yang tidak dapat diselesaikan oleh satu perusahaan besar sekalipun.

Jadi sebenarnya, sangat sulit untuk menguraikan apa arti dari semua ini.

Karena saat kita mendengar deskripsi seperti yang telah kami sebutkan diatas, respons pertama yang ada dipikiran kita pastilah: 

"Bukankah itu sudah ada dari dulu?".

Sebut saja game World of Warcraft, misalnya, merupakan dunia virtual di mana para pemain dapat membeli dan menjual barang.

Game Fortnite memiliki pengalaman virtual seperti layaknya konser musik. Anda dapat memasang headset Oculus dan berada di rumah virtual pribadi Anda sendiri. 

Lalu, apakah itu semua benar-benar apa yang dimaksud dengan "metaverse"? Hanya sebatas beberapa jenis game baru saja?

Jawabannya, Iya dan tidak.

Saat kita menyebutkan game Fortnite adalah "metaverse", hampir sama saat kita mengatakan Google adalah "internet." 

Bahkan jika Anda menghabiskan banyak waktu di game Fortnite, bersosialisasi, membeli barang, belajar, dan bermain game, itu tidak berarti mencakup seluruh ruang lingkup dari apa yang orang dan perusahaan maksudkan ketika mereka mengatakan "metaverse."

Sama seperti Google, yang membangun sebagian dari internet dari pusat data fisik hingga lapisan keamanan bukanlah keseluruhan dari internet. 

Raksasa teknologi seperti Microsoft dan Meta (Facebook) sedang mengembangkan teknologi yang terkait dengan interaksi dengan dunia virtual, dan mereka bukanlah satu-satunya.

Banyak perusahaan besar lainnya, termasuk Nvidia, Unity, bahkan Roblox, serta berbagai perusahaan kecil dan startup yang sedang membangun infrastruktur untuk menciptakan dunia virtual yang lebih baik yang lebih mirip dengan kehidupan fisik kita.

Mungkin hal ini juga yang ingin dilakukan oleh Universitas Terbuka (UT), yakni menciptakan dunia virtual akademik dan non-akademik kepada para mahasiswa dan sivitas akademikanya yang lebih mirip dengan kehidupan fisik.

Sebagai contoh, perusahaan Epic telah mengakuisisi sejumlah perusahaan yang selama ini membantu mereka membuat atau mendistribusikan aset digital, yang sebagian besarnya pendukung platform Unreal Engine 5 mereka. 

Sementara itu Unreal mungkin merupakan platform video game, namun itu juga digunakan dalam industri film dan dapat memudahkan siapa saja untuk menciptakan pengalaman dunia virtual.

Ada perkembangan nyata dan menarik di ranah membangun dunia digital ini.

Meskipun demikian, gagasan tentang tempat terpadu seperti dalam film "Ready Player One" yang disebut "metaverse" sebagian besar masih tidak mungkin.

Sebab itu sebagian besarnya dimana perusahaan diharuskan untuk bekerja sama dengan cara yang sama sekali tidak menguntungkan bagi mereka dan tentu tidak mereka inginkan.

Perusahaan game Fortnite tidak termotivasi untuk membuat pengguna mereka untuk melompat langsung ke dunia game World of Warcraft, atau melompat kedunia game Roblox.

Fakta yang kurang menyenangkan ini telah memunculkan terminologi yang sedikit berbeda.

Sekarang banyak perusahaan yang merujuk pada satu game atau platform sebagai "metaverse ". 

Menurut definisi ini, apa pun itu, mulai dari aplikasi konser VR, kegiatan akademik ataupun non-akademik universitas terbuka secara virtual (kuliah VR), hingga video game akan dihitung sebagai "metaverse".

Namun ada juga yang mendefiniskan apa itu metaverse lebih jauh lagi, yakni dengan menyebutkan koleksi dari berbagai metaverse, yang disebut sebagai “multiverse of metaverses.” 

Atau bahkan mungkin kita sedang hidup dalam dunia "hybrid-verse".

Dimana perusahaan-perusahaan yang membangun metaverse mereka sendiri, bergabung dalam sebuah metaverse besar, yang disebut dengan multiverse of metaverses.

Atau kata-kata ini bisa saja merujuk dan berarti apa saja, terserah bagaimana kita menganggapnya apa.

Perusahaan minuman seperti Coca-Cola misalnya. Baru-baru ini meluncurkan produk minuman virtual sebelum diluncurkan kedunia nyata.

Coca Cola Zero Sugar Byte akan "menghidupkan rasa piksel," menurut perusahaan minuman bersoda yang berasal dari Amerika Serikat (AS) itu. 

Detailnya tetap disimpan "sebagai misteri," tapi menandai perilisannya, produk minuman soda itu akan tersedia di metaverse dalam video gim Fortnite.

Tidak ada yang aturan yang mengikat tentang definisi metaverse itu, jadi boleh-boleh saja jika Coca-cola ingin menciptakan minuman virutal "menghidupkan rasa piksel" yang mungkin menjadi bagian promosi minuman mereka.

Pada titik ini, diskusi tentang apa yang diperlukan metaverse mulai terhenti.

Saya sendiri memiliki pengertian yang samar tentang hal-hal apa yang saat ini ada yang bisa disebut sebagai metaverse, jika dilihat dari definisi kata-kata dengan cara yang benar.

Sebagaimana yang saya ketahui, perusahaan-perusahaan besar yang berinvestasi dalam gagasan metaverse ini, tidak ada yang mendekati kesepakatan tentang apa itu metaverse.

Meta (Facebook) berpikir "metaverse" itu mencakup rumah palsu (virtual), dimana Anda dapat mengundang semua teman virtual Anda untuk hang out bareng.

Adapun Microsoft berpikir itu bisa melibatkan ruang rapat virtual untuk melatih karyawan baru atau mengobrol dengan rekan kerja jarak jauh Anda.

Sedangkan Coca-cola membuat minuman virtual yang dimasukkan kedalam metaverse versinya Fortnite.

Dan sekarang Universitas Terbuka (UT) yang ingin terjun kedalam metaverse, yang bukan game VR/ AR, bukan juga produk virtual, namun mungkin lebih seperti metaverse nya Microsoft dan Meta.

Pada satu titik selama presentasi asli Meta (Facebook) tentang metaverse, mereka menunjukkan demo berskenario di mana seorang wanita muda sedang duduk di sofa sambil menggulir Instagram ketika dia melihat video yang diposting teman tentang konser yang terjadi di belahan dunia lain. 

Video kemudian dipotong ke konser, di mana wanita itu muncul dalam hologram bergaya Avengers. 

Dia dapat melakukan kontak mata dengan temannya yang secara fisik ada di sana, mereka berdua dapat mendengar konser, dan mereka dapat melihat teks mengambang melayang di atas panggung. 

Kelihatannya keren, tapi itu tidak benar-benar bukan produk nyata, atau bahkan mungkin tentang produk yang akan datang.

Faktanya, ini membawa kita ke masalah terbesar dengan "metaverse."

Mengapa Metaverse Melibatkan Hologram?

Ketika internet pertama kali hadir, hal itu dimulai dengan serangkaian inovasi teknologi, seperti kemampuan untuk membuat komputer berbicara antara satu dengan yang lainnya dalam jarak yang sangat jauh.

Atau kemampuan untuk hyperlink dari satu halaman web ke halaman web lainnya.

Fitur teknis ini adalah blok bangunan yang kemudian digunakan untuk membuat struktur abstrak yang kita kenal dengan internet: situs web, aplikasi, jejaring sosial, dan segala hal lain yang bergantung pada elemen inti tersebut.

Belum lagi konvergensi inovasi antarmuka yang tidak sepenuhnya merupakan bagian dari internet tetapi masih diperlukan untuk membuatnya berfungsi, seperti monitor, keyboard, mouse, atau touchscreen.

Dengan metaverse, ada beberapa blok bangunan baru, seperti kemampuan untuk menampung ratusan orang dalam satu server (mungkin bisa menjadi ribuan atau bahkan jutaan orang sekaligus).

Atau alat sensor gerak yang dapat membedakan di mana seseorang melihat atau di mana tangannya berada. Teknologi baru ini bisa sangat menarik dan terasa futuristik.

Namun...!, Ada batasan yang tidak mungkin untuk diatasi.

Ketika perusahaan teknologi seperti Microsoft atau Meta menunjukkan video fiksi tentang visi mereka tentang masa depan, mereka sering cenderung mengabaikan bagaimana orang akan berinteraksi dengan metaverse.

Headset VR masih sangat kaku, dan kebanyakan orang mengalami pusing atau sakit secara fisik jika mereka memakainya terlalu lama.

Kacamata Augmented Reality (AR) juga menghadapi masalah yang sama, selain masalah bagaimana caranya orang dapat memakainya di depan umum tanpa terlihat seperti orang bodoh.

Belum lagi tantangan aksesibilitas VR yang masih diabaikan oleh banyak perusahaan untuk saat ini .

Jadi, bagaimana bisa perusahaan teknologi memamerkan ide teknologi mereka tanpa menunjukkan realitas headset besar atau kacamata yang terlihat norak?

Sejauh ini, solusi utama mereka tampaknya hanya membuat teknologi seperti yang sudah ada saat ini. 

Bukan seperti Wanita holografik yang kita lihat dalam demo/ presentasi Meta. 

Terus terang, saya juga tidak ingin menghancurkan ilusi dan harapan itu. Namun sepertinya hal itu tidak mungkin, bahkan dengan teknologi yang sangat maju dari apa yang ada sekarang. 

Tidak seperti avatar digital yang bisa digerakkan, yang walaupun sekarang agak tersendat-sendat, akan tetapi bisa menjadi lebih baik suatu hari nanti. 

Demo Meta lainnya menunjukkan karakter yang mengambang di udara. 

Entah apakah dia diikat ke peralatan udara yang imersif atau mereka hanya duduk di meja? 

Juga tentang saat seseorang yang diwakili oleh hologram, apakah mereka menggunakan headset tertentu, dan jika iya, bagaimana wajah mereka dipindai?

Dan pada titik tertentu, seseorang mengambil barang-barang virtual tetapi kemudian memegang benda-benda itu di tangan fisik mereka.

Seperti dalam film-film Marvel, dimana Tony Stark (Iron Man) bermain-main dengan teknologinya, memegang hologram, menggeser-geser hologram yang muncul didepannya.

Demo-demo seperti ini menimbulkan lebih banyak pertanyaan daripada jawabannya.

Sampai batas-batas tertentu, hal ini terlihat tidak ada yang salah.

Microsoft, Meta, dan setiap perusahaan lain yang menunjukkan demo liar seperti ini mencoba untuk memberikan kesan artistik tentang masa depan.

Mereka tidak harus menjelaskan setiap hal yang berkenaan dengan teknisnya.

Kebingungan dan kekecewaan terhadap sebagian besar proyek "metaverse" begitu meresap, hingga saat video demo belanja Walmart VR dari tahun 2017 muncul kembali, dan mulai menjadi tren lagi pada Januari 2022.

Orang-orang langsung mengira itu adalah demo metaverse lainnya.

Hal ini juga menunjukkan bahwa sebanyak apapun diskusi tentang metaverse saat ini, itu semua hanya didasarkan atas tren saja. 

Jenis angan-angan seperti dalam demo-demo teknologi metaverse ini menempatkan kita pada posisi yang sulit untuk menentukan aspek mana dari berbagai visi metaverse yang akan benar-benar akan terwujud suatu hari nanti (itupun jika ada).

Jika headset VR dan AR menjadi nyaman dan cukup murah untuk dipakai orang setiap hari, dan “jika” yang substansial, maka mungkin permainan gaple higgs domino island virtual dengan teman-teman Anda yang beravatar atau hologram yang mengambang di udara bisa agak mendekati kenyataan. 

VR dan AR juga mengaburkan cara bagaimana agar dunia digital kita yang sudah ada dan saling terhubung saat ini dapat ditingkatkan.

Seperti Apa Metaverse Sekarang?

Paradoks mendefinisikan metaverse adalah "bahwa untuk menjadi masa depan,  Anda harus mendefinisikan masa kini".

Meluangkan waktu untuk berdiskusi tentang metaverse pasti akan merujuk pada cerita fiksi seperti Snow Crash novel 1992 yang menciptakan istilah “metaverse”.

Atau film "Ready Player One", yang menggambarkan dunia VR tempat semua orang bekerja, bermain, dan toko-toko.

Semua itu pasti akan sangat melelahkan.

Untuk itu, coba ganti frasa "metaverse" dengan kalimat "cyberspace." Sembilan puluh persen artinya tidak akan berubah secara substansial.

Tren-tren semacam ini dan saat ini bisa dibilang bahwa lebih mementingkan gagasan metaverse daripada jenis teknologi yang lebih spesifik lainnya.

Maka, tidak heran jika ada orang-orang yang mempromosikan hal-hal seperti NFT-token kriptografi yang dapat berfungsi sebagai sertifikat kepemilikan barang digital, juga berpegang pada gagasan metaverse ini.

Memang, NFT kurang baik bagi lingkungan blockchain publik yang sebagian besar bermasalah dengan privasi dan keamanan.

Akan tetapi jika perusahaan-perusahaan teknologi dapat mempertahankan argumennya bahwa mereka akan menjadi kunci digital untuk rumah virtual seperti di game Roblox atau Fortnite, maka "boom", Anda baru saja mengubah hobi membeli meme menjadi infrastruktur penting untuk masa depan internet (dan mungkin menaikkan nilai semua cryptocurrency yang Anda pegang sekarang.)

Penting untuk mengingat semua konteks ini karena meskipun tergoda untuk membandingkan ide-ide proto-metaverse yang kita miliki saat ini dengan internet awal dan menganggap semuanya akan menjadi lebih baik dan berkembang secara linier, itu semua belum pasti.

Tidak ada jaminan bahwa orang-orang dapat nongkrong di kantor virtual atau bermain poker secara hologram dengan Dreamworks Mark Zuckerberg, apalagi teknologi VR dan AR akan menjadi hal biasa seperti smartphone dan komputer seperti saat ini.

Dalam beberapa bulan sejak rebranding Facebook, dengan konsep "metaverse" nya telah berfungsi sebagai kendaraan untuk mengemas kembali teknologi lama, menjual manfaat teknologi baru secara berlebihan, dan menangkap imajinasi investor yang spekulatif.

Namun, itu semua tidak berarti tidak ada hal yang keren dari metaverse. 

Headset VR seperti Quest 2 yang lebih murah dari sebelumnya dan akhirnya menghilangkan rig desktop atau konsol yang mahal.

Video game dan dunia virtual lainnya semakin mudah dibuat dan didesain. 

Dan secara pribadi, saya pikir kemajuan dalam fotogrametri, proses membuat objek 3D digital dari foto atau video adalah alat yang sangat keren untuk para seniman digital.

Tetapi sampai batas tertentu, industri teknologi sangat bergantung pada futurisme. 

Berjualan ponsel didunia nyata tetap akan baik-baik saja, akan tetapi menjual masa depan jauh lebih menguntungkan.

Pada kenyataannya, mungkin saja "metaverse" senyata apa pun itu akan sedikit lebih dari beberapa game VR keren dan avatar digital dalam panggilan Zoom.

Namun kebanyakannya masih kita anggap sebagai internet biasa saja.

Dari pemahaman tentang apa itu metaverse yang menyangkut beberapa nama perusahaan-perusahaan besar teknologi didunia, masih belum dapat mendefinisikan sepenuhnya tentang apa itu metaverse.

Jadi mungkin masih terlalu dini, bagi universitas terbuka untuk menyebutkan bahwa mereka siap untuk memasuki dunia metaverse dalam pelayanan akademik dan non-akademik kepada para mahasiswa dan sivitas akademikanya.

Namun, jika merujuk dari penjelasan apa itu metaverse diatas, saat ini Universitas Terbuka (UT) sudah bisa dikatakan sudah memasuki dunia metaverse. 

Dalam artian, pembelajaran yang dilakukan secara daring oleh UT merupakan pembelajaran yang dilakukan melalui media internet.


TENTANG KAMI : Situs yang didedikasikan sebagai tempat untuk belajar Soal CPNS, Psikotes dan Blogging. Informasi terkini tentang Drakor terbaru, Loker, Lifestyle dan Teknologi. Terus ikuti kami untuk update artikel terbaru, atau ikuti kami di Facebook dan Twitter.


Deddy's
Deddy's Seorang abdi negara yang aktif menulis blog dikala libur
Follow me: @deddy

Posting Komentar untuk "Apa itu Metaverse? Penjelasan Lebih Lanjut Tentang Metaverse!"